Kelompok Studi Biologi Universitas Brawijaya

Capung Batu Merah Jambu

Capung Batu Merah Jambu (Rhinocypha fenestrata)

          Spesies yang akan dibahas secara singkat kali ini adalah Rhinocypha fenestrata. Nama lokal dari spesies ini adalah ‘capung batu merah jambu’. Capung batu merah jambu (gambar 1.) ditemukan pada tanggal 14 September 2013 di air terjun Coban Rais, Malang. Seperti yang dapat dilihat, capung betina memiliki warna tubuh yang lebih pucat dan lebih tidak menyolok dibandingkan capung jantan. Berikut ini adalah ulasan singkat tentang Rhinocypha fenestrata.

Rhinocypha fenestrata betina (Kurniawan 2013)

a)

Rhinocypha fenestrata jantan (Kurniawan 2013)

b)

Gambar 1. Rhinocypha fenestrata yang ditemukan di Coban Rais (Kurniawan, 2013). a) Betina; b) Jantan.

Klasifikasi (Rahadi, dkk. 2013)
Kingdom          :  Animalia
Filum                 :  Arthropoda
Kelas                  :  Insecta
Ordo                  :  Odonata
Subordo           :  Zygoptera
Famili                :  Chlorocyphidae
Genus                : Rhinocypha
Spesies              :  Rhinocypha fenestrata (Burmeister, 1839)

Deskripsi
            Capung jantan memiliki tubuh berwarna hitam, begitu pula dengan warna mata majemuk. Sintoraks berwarna hitam dengan pola garis-garis biru pada sisi samping dan merah muda pada sisi atas. Abdomen berwarna hitam, terdapat bercak biru pada sisi samping abdomen di ruas 1-5. Embelan (bagian ujung ekor, berperan dalam kopulasi) berwarna hitam, superior embelan berukuran lebih panjang daripada inferior. Sayap berwarna hitam dan akan terdapat refleksi warna merah jambu jika terkena sinar matahari. Pangkal sayap berwarna cokelat transparan hingga bagian tengah. Tungkai berwarna hitam keabu-abuan (Rahadi, dkk. 2013).
Capung betina memiliki tubuh dengan warna lebih pucat dibandingkan jantan. Mata majemuk memiliki perpaduan warna cokelat gelap pada bagian atas dan cokelat pucat pada bagian bawah. Sintoraks dan protoraks cokelat gelap dengan garis-garis cokelat muda dan hijau muda pucat. Abdomen berwarna cokelat dengan cuping melebar pada ruas 8-10 di sisi samping. Sayap berwarna cokelat transparan dan pterostigma berwarna cokelat kehitaman. Tungkai berwarna cokelat kehitaman (Rahadi, dkk. 2013). Pterostigma merupakan suatu bagian pada sayap serangga yang mengalami penebalan dan berwarna berbeda. Pterostigma sendiri berperan penting dalam fungsi aerodinamik saat capung meluncur (Manolis 2003).

Kebiasaan
          Rhinocypha fenestrata memiliki kebiasaan hinggap di ranting atau daun di dekat perairan. Selain itu, spesies ini sensitif terhadap kehadiran manusia (Rahadi, dkk. 2013).

Habitat
               Rhinocypha fenestrate banyak ditemukan di sekitar perairan sungai bersih dan mengalir dengan intensitas cahaya matahari sedang. Misalnya di bawah naungan pohon atau bambu. Capung jenis ini banyak muncul pada musim kemarau (Rahadi, dkk. 2013).

Referensi

Manolis, Tim. 2003. Dragonflies and Damselflies of California. University of California Press. California.

Rahadi, W. S., B. Feriwibisono, M. P. Nugrahani, B. Putri I. D., T. Makitan. 2013. Naga Terbang Wendit : Keanekaragaman Capung Perairan Wendit, Malang, Jawa Timur. Indonesia Dragonfly Society. Malang.